The Real Conqueror Ride To 3 Nations (Indonesia-Malaysia-Brunei Darussalam)

Hai … saya Figa Avia Visca Weismann, biasa dipanggil sist Figa atau Figa The Real Conqueror, Lady Biker asal Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia.

Sudah melakukan riding keliling Indonesia sejak tahun 2007, Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Sape (NTB) bahkan solo ride lintas Sulawesi (2012, 2013, 2015, 2016), lintas Borneo

(2014 dan 2019), Flores NTT (2017), Timor Leste (2017), dan Papua New Guinea (2018)

Di artikel ini saya akan berbagi cerita dan pengalaman selama riding Lintas Borneo 360 Derajat/Degree, lintas 3 Negara (Indonesia – Malaysia - Brunei Darussalam) dan Ride Tip to Tip (The Northern and Southern Most Tip of Borneo Island) selama 22 hari, mulai tanggal 30 Mei – 20 Juni 2019.

Berawal dari menyiapkan dokumen yang diperlukan, Carnet De Passages En Douane (CDP Carnet) yang diterbitkan oleh Ikatan Motor Indonesia (IMI) Pusat dan Passport tentunya. Pengiriman motor dengan menggunakan jasa KM. Dharma Rucitra VII pada Rabu, 22 Mei 2019, pk. 07.00 WITA menuju Batulicin, Kalimantan Selatan dan saya dengan menggunakan maskapai Lion Air pada Rabu, 29 Mei 2019, pk. 19.10 WITA menuju Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Setibanya di Bandara Syamsudin Noor, saya dijemput oleh bro Akhya BTRC dan bro Thomas biker asal Italy yang rencana akan riding lintas Borneo Oktober 2019.

Saya reservasi hotel yang sama dengan bro Thomas di Banjarbaru karena kami akan sharing berbagi pengalaman touring Jelajah Indonesia. Motor saya si Tiggy, Honda Tiger 200 CC tahun 2012 sudah ada dibawa oleh bro Adit TOB dari Batulicin ke Banjarbaru. Terima kasih bro Adit dan biker TOB yang sudah mengkondisikan si Tiggy.

Berikut kisah saya yang saya tulis perhari.

DAY 1 (Kamis, 30 Mei 2019) :

Banjarbaru – Banjarmasin – Palangka Raya – Sampit (448 KM)

Start riding dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pk. 10.00 WITA dilepas oleh Ketua IMI PengProv Kalimantan Selatan, bro Edy Sudarmadi beserta saudara bikers BTRC Banjarbaru dan BATIC Banjarmasin.

Kemudian bersama ketua BTRC, bro Agus kami melanjutkan perjalanan dan mampir sebentar di Nol Kilometer Banjarmasin dan bertemu saudara bikers BATIC Banjarmasin.

Lanjut lagi ke Jembatan Barito untuk berfoto, tiba-tiba datang polisi dan kami diberi teguran karena tidak boleh berhenti di jembatan dan setelah itu kami dipersilahkan melanjutkan perjalanan. Waduh jadi malu nih… maaf ya pak polisi. Kamipun melanjutkan perjalanan sampai Palangkaraya, Kalimantan Tengah dan rest makan siang. Selang beberapa saat, datang saudara bikers P200 Palangkaraya dan mengantar kami ke bengkel untuk ganti oli.

Kondisi jalan mulai dari Banjarbaru sampai Palangkaraya mulus, aman, lancar dan cuaca cerah.

Bro Agus stay di Palangkaraya karena dia bekerja disitu dan Figa lanjut solo ride sampai kota Sampit, Kalimantan Tengah. Tiba di kota Sampit dalam kondisi hujan dan sayapun disambut hangat oleh bikers TOS Sampit dan bro Indie sahabat biker dimana kami pernah bertemu 5 tahun lalu saat saya Solo Ride Borneo tahun 2014. Kamipun ngobrol lama di sekre TOS dan saya berkesempatan sharing “Mengurangi Sampah Plastik” yang menjadi bagian dari misi touring saya kali ini. Setelah itu kami makan malam dan foto bersama, kemudian saya lanjut istirahat di Midtown Hotel yang sudah direservasi oleh Dewan Pembina TOS Sampit. Terima kasih bro atas jamuan dan pengkondisiannya.

TOS Sampit baru terbentuk 3 tahun dibawah naungan Honda Tiger Club Indonesia (HTCI) satu bendera dengan club saya, MTC Makassar.

DAY 2 (Jumat, 31 Mei 2019) :

Sampit – Simpang Runtu – Sandai (501 KM)

Pukul 08.00 WIB (perbedaan waktu KalSel dan KalTeng 1 jam, WITA ke WIB), saya dijemput oleh bikers TOS dari Midtown Hotel menuju Tugu Perdamaian suku Dayak dan Madura untuk berfoto dan setelah itu saya melanjutkan solo ride.

Pukul 11.00 WIB tiba di Simpang Runtu sayapun isi minyak dan makan siang. Kemudian lanjut sampai Lamandau, mampir di bengkel untuk kencangkan rantai motor yang kendor. Saya melihat ada rembesan oli di seal dan packing yang membuat saya jadi khawatir. Sayapun minta tolong mekanik bengkel untuk memeriksa.

Di Lamandau ketemu 3 orang bikers yang belum saya kenal sebelumnya dan mereka tahu akan kedatangan saya dan 1 orang yang pernah berjumpa dengan saya 5 tahun lalu. Dia menyapa dan mengingatkan kembali pertemuan waktu itu.

Setelah motor selesai di service sayapun melanjutkan perjalanan. Kondisi jalan sangat mulus beda dengan 5 tahun lalu masih dalam kondisi perbaikan jalan jadi saya harus menggunakan jembatan darurat untuk dilewati. Hanya saja dari dulu sampai sekarang SPBU masih susah ditemui, kalaupun ada tertutup atau antri, lebih banyak yang eceran. Pukul 18.00 WIB saya tiba di Sandai dan saya putuskan untuk stay karena sangat riskan untuk melanjutkan perjalanan karena di depan ada banyak tanjakan dan kurangnya SPBU, apalagi riding di malam hari, bisa-bisa yang minyak eceranpun sudah tutup. Sayapun segera mencari penginapan, menurunkan barang bawaan dari motor, mandi, lanjut cari warung makan.

Ada cafe depan penginapan dan sayapun pesan makan malam sambil share location di group WA. Selang beberapa menit saya dapat WA dari bikers Sandai yang ingin bertemu dan mereka datang menemui saya di cafe.

Dan sayapun diajak ke sekre mereka dimana sudah ada bikers dari beberapa komunitas yang menunggu dan kamipun ngopi, sharing “Mengurangi Sampah Plastik” dan foto bersama. Sekitar 2 jam kemudian saya mohon pamit untuk balik ke penginapan dan beristirahat.

Day 3 (Sabtu, 1 Juni 2019) :

Sandai – Tayan – Pontianak (302 KM)

Pukul 07.00 WIB kembali Figa solo ride dari Sandai menuju gerbang batas Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, yang dikenal dengan sebutan warung bikers karena banyak sticker komunitas bikers tertempel disepanjang etalase kaca warung.

Namun ketika saya tiba di warung bikers tersebut pemandangan sudah berubah. Tidak ada lagi sticker-sticker komunitas yang tertempel termasuk sticker saya. Jadi saya hanya menikmati kopi susu panas dan minta tolong pengunjung yang kebetulan lagi foto di gerbang batas tersebut untuk mengambil gambar saya di gerbang tersebut juga.

Kembali Figa solo ride menuju Tayan dimana bro Ryan PTC Pontianak sudah menunggu untuk menjemput. Ternyata Tayan sudah tidak seperti dulu lagi. Kalau dulu motor dan rider harus menyeberangi Sungai Kapuas dengan menggunakan perahu Klotok, sekarang sudah ada Jembatan Tayan yang baru diresmikan oleh Presiden RI Bapak Jokowi. Sayang sekali saya tidak sempat mengabadikan foto di jembatan tersebut. Pada saat tiba di Jembatan Tayan dalam kondisi hujan dan sayapun tetap memacu si Tiggy dan bro Ryan PTC tidak nampak disekitar jembatan Tayan. Sayapun mampir di SPBU beberapa meter setelah

jembatan Tayan untuk menghubungi bro Ryan PTC namun no connection dan sayapun memutuskan untuk melanjutkan riding sampai di Terminal Antar Negara Ambawang sebelum masuk kota Pontianak. Disitu ada signal dan sayapun melapor posisi saya ke Pengurus Pusat HTCI, bang Yosie SJRC dan bro Wawan PTC yang juga memantau perjalanan saya. Tak lama sayapun dijemput bro Didit LTC Landak yang kebetulan berada di Pontianak

Atas arahan dari Kapengda HTCI Pengda Kalimantan Barat, bro Dimas, sayapun dibawa ke Mess PemDa untuk stay disitu. Setelah meletakkan barang bawaan sayapun diajak Pengurus HTCI Pengda KalBar ke cafe Jon depan mess untuk ngopi lanjut makan malam dan bertemu bikers BUTIC Kuburaya, kemudian lanjut ke cafe yang lain untuk bertemu bro Damir MBC Pontianak yang akan memberi arahan dan masukan sebelum masuk Malaysia dan Brunei Darussalam. Setelah dari situ kamipun bergeser ke cafe dimana saudara bikers PTC Pontianak sudah menunggu. Ceritanya hari ini from cafe to cafe.

DAY 4 (Minggu, 2 Juni 2019) : Pontianak

Seharian ini saya santai di kota Pontianak, Kalimantan Barat karena menunggu surat jalan dari Polda KalBar yang belum selesai yang diurus oleh bro Wawan PTC. Pukul 08.00 WIB si Tiggy dibawa ke bengkel oleh bro Didit LTC dan ditinggal di bengkel untuk diservice, saya dan bro Kleso KTC ke laundry dengan mengendarai mobilnya dan menikmati sarapan pagi di warung kopi Asiang, warung kopi tertua sejak tahun 1958 dan terkenal di kota Pontianak. Tak lama muncul bro Didit LTC dan bergabung ngopi-ngopi.

Setelah sarapan pagi saya diantar bro Kleso KTC ke gereja untuk mengikuti ibadah Minggu pagi pk. 09.00 WIB dan bro Didit balik ke bengkel. Setelah ibadah usai pk. 10.30 WIB dengan jasa Grab saya kembali ke Mess dan tidak berapa lama si Tiggy dan bro Didit LTC datang dari bengkel. Kamipun lanjut makan siang bubur ikan Ahian ada ikan Napoleon, Ikan Hiu, ikan Kerapu, dll dan merupakan makanan khas kota Pontianak. Sedap dan segar sekali.

DAY 5 (Senin, 3 Juni 2019) :

Pontianak – Mempawah – Pemangkat – PLBN Aruk Sambas (320 KM)

Pukul 08.00 WITA saya sudah siap untuk riding namun ada info kalau surat jalan belum juga selesai. Sayapun nongkrong seharian bersama bro Didit LTC di cafe Jon depan Mess. Tak terasa waktu hampir pukul. 16.00 WIB dan surat jalan belum juga selesai karena yang akan bertanda tangan sedang tidak di tempat. Saya WA om Stephen Langitan dan menanyakan tentang surat jalan dan beliau berdasarkan pengalamannya kemarin tidak diperlukan. Dan saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan tanpa surat jalan. Dan saya berpesan kalau selesai nantinya minta tolong agar di email saja.

Pukul 16.00 WIB kembali Figa solo ride ke Mempawah dalam kondisi hujan. Dalam perjalanan menuju Mempawah bertemu bikers MTC Mempawah dan sayapun diantar bertemu bikers MTC Mempawah dan bikers dari komunitas lain yang kebetulan akan mengadakan acara buka puasa bersama. Sayapun ikut buka puasa bersama ala tradisi mereka dan dilanjutkan dengan sesi foto-foto.

Kembali Figa solo ride di malam hari menuju Pemangkat melintasi Singkawang. Saya tidak mampir foto-foto di Singkawang karena sudah pernah sebelumnya lagian pula sudah malam hari. Kondisi jalan menuju PLBN Aruk Sambas sangat bagus dan melewati hutan-hutan yang sangat sepi. Sayapun memacu si Tiggy 120km/jam. Tiba di PLBN Aruk Sambas pk. 23.00 WIB. Gate PLBN Aruk Sambas tutup pukul 17.00 WIB. Karena saya tiba malam hari, jadi saya harus menginap disekitar Pos Lintas Batas Negara (PLBN). Sayapun mendatangi kumpulan anak muda yang sementara bermain game online dan mereka menunjukkan tempat penginapan. Sayapun ke tempat penginapan tampak sepi dan saya buka hp untuk melaporkan posisi saya dan baca WA dari om Stephen Langitan dan group WA untuk stay di penginapan sekitar PLBN namun penginapan yang dimaksud juga sudah tutup. Saya sudah mulai resah karena waktu sudah tengah malam masih berkeliaran diluar sendirian dan sepi. Sayapun balik arah dan tampak ada seperti penginapan dan saya pun mampir. Saya dengar suara ramai di lantai bawah yang ternyata tempat main billyard dan seketika muncul 2 anak muda keluar dan mereka membantu saya kembali lagi ke beberapa penginapan semula dan mengetuk pintu serta memanggil nama yang punya penginapan karena mereka saling kenal. Tapi tetap saja tidak ada yang buka. Akhirnya anak muda tersebut dengan sopan dan ramah menawarkan kamar karyawan yang kosong karena ditinggal mudik. Sayapun numpang rest disitu. God is good all the time.

Day 6 (Selasa, 4 Juni 2019) :

PLBN Aruk Sambas - ICQS Biawak – Telok Melano (70.2KM) Telok Melano – Kuching (140 KM)

Pukul 06.00 WIB setelah mandi pagi saya siap-siap akan meninggalkan tempat tersebut namun anak muda tersebut yang ramai tadi sudah pada pergi tidak tahu kemana atau sudah pada pulang ke rumahnya masing-masing dan rumah makan yang dilantai atas yang semalam terbuka sudah tertutup juga.

Sayapun beranjak dari tempat tersebut dan mencari warung kopi dekat tempat saya menginap semalam untuk sarapan pagi sebelum masuk PLBN Aruk Sambas. Kepada pemilik warung kopi saya bertanya apakah dia mengenal anak muda di tempat saya menginap semalam dan dia mengenalnya. Sayapun minta tolong agar sampaikan ucapan terima kasih

saya kepada mereka karena sudah memberi tumpangan semalam. Setelah sarapan saya selfie sebentar di luar PLBN Aruk Sambas Sajingan.

Di PLBN Aruk Sambas semua staff sangat membantu proses stamp passport dan CDP Carnet dan pemeriksaan dokumen lainnya serta mencek nomor rangka dan mesin motor berdasarkan data CDP Carnet dan si Tiggy pun difoto juga. Saya didampingi terus staff

imigrasi dengan ramah sampai semua administrasi beres. Setelah akan meninggalkan PLBN Aruk Sambas, semua staff keluar untuk melihat saya dan si Tiggy dan memberikan doa dan ucapan selamat sampai tujuan dengan selamat. Terima kasih atas pelayanan yang diberikan.

Hal inipun terjadi sama di ICQS (Immigration, Customs, Quarantine and Security) Biawak, Malaysia. Para staff sangat ramah dan membantu dan setelah semua administrasi beres dan mendapatkan stamp resmi, seorang staff membantu saya membuat video singkat tentang perlunya CDP Carnet bagi para riders yang ingin riding Lintas Negara klik disini Terima kasih om atas bantuannya.

Setelah itu sayapun keluar perbatasan solo ride langsung menuju Nol Kilometer Telok Melano, Pan Borneo Highway Sarawak atas usulan dari seorang biker Malaysia agar mengunjungi tempat tersebut klik disini Arahnya berlawanan dengan kota Kuching, Sarawak, Malaysia. Jadi nantinya saya harus kembali lagi dan ambil jalan potong menuju Lundu lanjut Kota Kuching, Sarawak, Malaysia.

Tiba di Lundu sekitar jam 12.00 pm (waktu di Malaysia lebih cepat 1 jam dari WIB) saya isi minyak oktan 95 dan mencari warung makan untuk makan siang. Dan atas arahan bro Zal NMax (teman om Taqwa IMI PengProv SulSel) by WA agar saya potong jalan menuju Ferry

Randangan karena lebih dekat dan hanya butuh waktu kurang lebih 5 menit untuk menyebrang. Bro Zal NMax sudah menunggu diseberang dan bersama kamipun menuju kota Kuching. Tiba di kota Kuching masih sore dan langsung foto-foto di landmark kota Kuching. Kemudian dilanjutkan ke bengkel ganti oli sekaligus cek si Tiggy dan reservasi di Place2stay Hotel. Turunkan barang dari motor dan cari cafe sekitar hotel dengan berjalan kaki untuk ngopi dan ngobrol santai bersama bro Zal NMax

Setelah itu balik ke hotel, saya dan bro Zal berpisah. Saya membuka hp dan ada WA masuk dari sist Nur BBC (biasa dipanggil mama rock) ajak hang out. Dan saya sampaikan 08.00 pm bisa dijemput karena saya mau istirahat dulu sebentar. Hari ini sangat melelahkan. Dan astaga…. saya terbangun pk. 09.00 pm. Saya merasa bersalah sudah membuat sist Nur menunggu. Ternyata sist Nur belum tiba di hotel. Dia terlambat pulang kantor dan terjebak macet karena hari itu pas malam Lebaran. Sayapun segera bersiap-siap dan segera turun untuk menemui sist Nur BBC bersama teman-temannya dan kamipun menuju Lok Lok makan malam disana. Setelah menikmati makan malam tak berapa lama berdatangan satu persatu bikers kota Kuching dan kamipun mengobrol kemudian bergeser menghabiskan

malam di Culture Club Kuching. Sampai pk. 01.00 am dinihari sayapun pamit untuk kembali istirahat di hotel dan sist Nur BBC lanjut bersama teman-temannya. Terima kasih bro-bro dan sist Nur BBC yang sudah temani semalam di kota Kuching, Sarawak, Malaysia

Day 7 (Rabu, 5 Juni 2019) : Kuching – Sibu (405 KM)

Pukul 07.00 am saya di jemput bro Adie Iskandar BBB di Place2stay Hotel kemudian mampir sebentar di patung kucing untuk membuat video ucapan Hari Raya Idul Fitri bagi saudara- saudaraku yang merayakannya klik disini Kamipun meninggalkan kota Kuching dan melanjutkan perjalanan. Ada pengalaman baru ketika mengisi minyak sendiri (self service) dan saya dibantu bro Adie karena belum pernah sebelumnya hahaha…. norak ihhh

Sampai di Betong kamipun berpisah dan kembali Figa solo ride sampai Sibu. Terima kasih bro Adie Iskandar BBB sudah temani jauh juga jaraknya. Saluuuttt….

Sebelum masuk Sibu saya bertemu biker LC Crew Sarikei Sarawak dan secara bergantian mereka escort dan akhirnya sayapun tiba di Sibu dan bertemu bro Rannye, bro Kennedy, bro Michael dan bro Maxwell dari LC Crew Sibu Sarawak. Mereke menemani untuk mencarikan hotel dan setelah itu sayapun segera mandi sementara mereka menunggu di teras hotel sambil ganti oli si Tiggy. Sore hari bengkel sudah tutup untung saya bawa oli cadangan jadi bro Rannye dan kawan-kawan yang gantikan dengan mengambil tools dibawah jok si Tiggy. Sehabis mandi sayapun menemui mereka dan pada saat itu hujan dan sayapun dibonceng bro Kennedy dan kamipun rame-rame menuju coin laundry dan tinggalkan laundry menuju rumah makan untuk makan malam. Setelah makan malam kami balik lagi ke tempat laundry dan pakaian sudah bersih, kering dan wangi hmmm…

Selama perjalanan hujan tidak merata dan tidak terlalu deras dan sayapun tidak mengenakan mantel hujan karena jaket yang saya kenakan waterproof kecuali celana saya kadang basah kadang kering kadang basah lagi kering lagi…hehehe. Dan saya diantar kembali ke hotel untuk beristirahat.

Sebelum istirahat bro Yoi, Sekjend Pemoda Bersepadu WA call dan minta share dokumen saya untuk dibantu uruskan vehicle pass (register online) karena Brunei no need CDP Carnet.

Day 8 (Kamis, 6 Juni 2019) :

Sibu – Miri – Bandar Seri Begawan (561 KM)

Pk. 08.00 am saya check out dari hotel dan bersama LC Crew Sibu Sarawak, bro Rannye dan bro Kennedy ke kedai kopi sambil menunggu bro Michael. Setelah itu kamipun ride bersama sampai di Bintulu dan makan siang. Di rumah makan kami bertemu dengan biker Pelesit yang nantinya akan escort saya dan LCC Sibu Sarawak balik kanan. Terima kasih bro-bro LC Crew Sibu Sarawak yang sudah escort.

Bersama biker Pelesit saya melanjutkan perjalanan, tiba-tiba helm saya terdengar ada ketukan aneh dan sayapun menepi ternyata camera go pro hampir copot. Dan sayapun lepaskan dan simpan di tank bag dan kembali melanjutkan perjalanan. Selang beberapa kilometer kamipun singgah di petrol station untuk mengisi minyak dan disitu kami bertemu bikers BRP Bakun dan bikers lainnya, mohon maaf saya tidah hafal semua nama bro dan nama clubnya.

Bersama kami ride dan sepanjang lintasan bergantian bikers escort. Terima kasih bro-bro dan terakhir di escort Jeneral Zal Kanazawa dari LC Crew Miri sampai Sg7 (Sungai Tujoh) Sempadan Miri. Terima kasih bro Zal Kanazawa

Tiba di Miri masih sore jadi saya langsung masuk Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. Sayapun membuka hp dan membaca group WA dan WA dari bro Yoi Sekjend Pemoda Bersepadu yang memberi arahan dan menginformasikan posisinya menunggu saya di luar border. Sayapun segera masuk Imigrasi dan Kastam untuk mendapatkan stamp passport dan CDP Carnet. Petugas sangat ramah bahkan membekali saya dengan coklat Cadburry… wow banyak sekali semua kantong jaket diisikan coklat hehehe ….enak nih tau aja kalau Figa suka coklat. Kebetulan Figa tiba pas di hari raya Lebaran jadi banyak cookies dan coklat. Setelah administrasi beres sayapun lanjut lagi ke border Brunei . Sempat bingung juga karena tidak ada motor yang masuk dan banyak gate saya harus ikut jalur mana yak??? Dan sayapun WA call bro Yoi, hp beserta power bank sudah mulai lowbat dan bro Yoi mengatakan kalau motor masuk aja ga pake antri. Sayapun masuk dan scan barcode vehicle pass yang semalam bro Yoi kirimkan. Keluar border ketemu bro Yoi yang sudah menunggu di Petrol Station dekat border dan kamipun lanjut makan malam. Terima kasih bro Yoi.

Sementara makan masuk WA call dari bro Syaiful yang ternyata sudah menunggu juga untuk penjemputan. Dan hp saya serahkan ke bro Yoi untuk mereka saling kordinasi. Setelah makan sayapun diantar bro Yoi ke tempat bro Syaiful menunggu.

Pengendara di Malaysia dan Brunei sangat tertib. Mendahulukan yang jalur lurus. Bagi pengendara yang akan berbelok pasti berhenti sebelum pengendara yang jalur lurus lewat

Jalan masuk Bandar Seri Begawan, Brunei seperti jalan toll (highway) kamipun ride dengan laju tapi yang pasti kalau bro Yoi lebih laju pasti ga terkejar, 950cc vs si Tiggy 200cc tapi biar demikian si Tiggy jam terbangnya lebih tinggi donk…hahaha

Akhirnya kami tiba di tempat bro Syaiful menunggu, dan bro Yoi balik kanan. Bersama bro Syaiful saya lanjut diantar ke rumah bro Muadz,The President of VMC dan menginap selama 2 malam disana.

Day 9 (Jumat, 7 Juni 2019) :

Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam

Keluarga bro Muadz sangat ramah, istrinya sist Yuli orang Lampung, Indonesia. Tiba di Brunei tepat hari raya Lebaran. Saya dibawa jalan-jalan bro Muadz dengan mengenderai Honda 1200 CC dan saya mengenderai Yamaha 250 CC karena si Tiggy sementara di service oleh mekanik handal Brunei akibat oli yang merembes semakin banyak. Berhubung hari raya

bengkel pada tutup, jadi mekanik datang ke rumah bro Muadz dan kerja di rumah. Sementara si Tiggy di service, saya dan bro Muadz mengunjungi Masjid Omar Al Saifuddin salah satu landmark kota Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam

Setelah itu kami kembali ke rumah karena Pangeran Redzuan, The President of Pemoda Bersepadu akan menjemput saya untuk berhari raya.

Tak lama kemudian Pangeran Redzuan beserta istri datang menjemput dan kamipun berhari raya di keluarganya. Ternyata keluarga Pangeran Redzuan dan saudara-saudaranyanya adalah bikers dan adiknya H. Zai yang juga bikers, ikut memantau perjalanan saya selama riding lintas Borneo.

Tak lama kemudian, Pangeran Redzuan menyampaikan kalau si Tiggy sudah siap diajak riding dan biayanya sudah ada yang handle. Terima kasih bro H. Zai dan bro Muadz yang sudah mengkondisikan si Tiggy tanpa sepengetahuan saya mereka sudah membayar biaya perbaikan si Tiggy. Sekali lagi terima kasih banyak bro-bro.

Setelah berhari raya dengan keluarga Pangeran Redzuan, sayapun diantar kembali ke rumah bro Muadz. Sayapun segera mandi dan tak berapa lama datang kerabat dan tetangga bro Muadz berhari raya dan sayapun diperkenalkan ke mereka. Dan hampir setiap ketemu orang pasti memiliki pertanyaan yang sama, solo ride? Cewek? Ga takut sendiri? Teman- temannya mana? Biasanyakan konvoi? Kalau pas di hutan ga ada signal, motor trouble gimana? Pertanyaan seperti ini sudah sering terlontar ketika Figa solo ride padahal ini bukan yang pertama kali, sudah sering solo ride hehehe….

Seperti motto saya “ Tantangan terbesar adalah hadapi tantangan itu, jangan menghindar atau andalkan kekuatan sendiri, karena kekuatan dan kemampuan kita terbatas. Tetapi andalkanlah Tuhan dalam segala hal”.

Sepanjang touringnya dilakukan dengan niat baik, pasti akan dilancarkan dan diberi kemudahan and I know God ride with me.

Day 10 (Sabtu, 8 Juni 2019) :

Bandar Seri Begawan, Brunei – Beaufort - Kota Kinabalu KK (343 KM)

Pukul 07.00 am saya bersama sist Yuli, istri bro Muadz, kami ke Istana Nurul Iman. Rencananya mau bertemu dengan Sultan Haji Hassanal Bolkiah. Setelah hari raya, istana dibuka untuk umum (open house). Siapapun bisa masuk istana termasuk Warga Negara Asing dan bertemu Sultan. Dengan diantar bro Muadz kami di drop di istana dan saya beserta sist Yuli lanjut naik bus yang sudah disediakan kesultanan dan diantar sampai ke tangga istana. Begitu banyak pengunjung dan kamipun antri dengan tertib. Dan kamipun masuk kedalam istana sebelumnya lewat proses registrasi terlebih dahulu. Dalam istana sudah banyak orang dan berbagai macam makanan beserta kudapan juga disediakan. Kamipun menyantap makanan yang sudah disediakan. Saya mengambil beberapa gambar dan video dalam istana klik disini

Bagi para riders yang ingin masuk Istana Nurul Iman boleh ke Brunei sehari setelah hari raya Lebaran. Sultan open house selama 3 hari berturut-turut demikian informasi yang saya dapatkan.

Di hall/ruangan sebelah Sultan H. Hassanal Bolkiah menerima tamu, sayang sekali waktu sudah pk. 09.00 am dan saya harus lanjut riding takut kemalaman tiba di Kota Kinabalu (KK). Saya beserta sist Yuli akhirnya keluar istana dan kami dijemput bro Muadz balik ke rumah dan sayapun bergegas persiapan untuk lanjut riding. Terima kasih bro Muadz beserta keluarga atas bantuan, jamuan dan pengkondisiannya selama Figa berada di Brunei.

Ketika akan meninggalkan kediaman bro Muadz, datang seorang biker, bro Ossana dan kamipun foto bersama dan bersama bro Muadz melepas dan mengantar saya sampai ke border. Sebelumnya mampir di Kedutaaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Brunei dan foto bersama. Setelah di border bro Muadz menyampaikan kalau motor masuk saja tidak pakai antri dan di depan nanti akan lewati 8 gate border (Kuala Lurah, Tedungan Limbang, Penduruan, Puni Temburong, Labu, Mangkalap, Merapok, Sindumin) untuk mendapatkan stamp passport dan CDP Carnet serta scan vehicle pass, seperti yang disampaikan bro Muadz sebelumnya.

Unik juga disepanjang lintasan ini saya keluar masuk Brunei - Malaysia - Brunei dan Malaysia. Barulah bisa keluar dari Brunei dan masuk Sabah, Malaysia. Semua dokumen saya simpan di tank bag untuk memudahkan keluar masuk pada saat pemeriksaan di 8 gate border yang saya lewati.

Kamipun berpisah, bro Muadz dan bro Ossana balik kanan dan sayapun melanjutkan perjalanan mengikuti mobil rekan bro Muadz yang kebetulan berjumpa di border dan dia akan ke KK. Hanya saja sampai di border Tedungan Limbang kami berpisah karena dia warga Negara Brunei jadi tidak terlalu ribet sedangkan saya naik motor dan harus urus administrasi disetiap border. Setelah melewati post terahir, sampailah saya di Sabah, Malaysia

Kembali Figa solo ride menuju Beaufort dalam kondisi hujan dan sayapun istirahat untuk makan. Setelah rest lanjut isi minyak menuju KK. Tiba di KK sudah malam dan ada biker yang memanggil nama saya dan mengejar kamipun beriringan dan menepi ke kedai untuk rest. Kamipun berkenalan dan namanya bro Nobi KK LC. Tidak berapa lama muncul lagi bro Barr dan Husin dari KK LC.

Mereka mengantar saya untuk reservasi di Asia Hotel, laundry, beli charger kotak di mall (kelupaan bawa), makan malam dan ke ATM. Di ATM kartu saya tidak bisa transaksi. Padahal kemarin di Brunei bisa. Sayapun mencoba di beberapa ATM bank lain yang ada logo Cirrus dan hasilnyapun sama. Akhirnya saya putuskan ke money changer dan untungnya saya masih punya Dollar Brunei yang ditarik di ATM kemarin ditambah Dollar US yang selalu saya bawa ketika ke luar negeri. Setelah itu saya diantar balik ke hotel untuk beristirahat

Day 11 ( Minggu, 9 Juni 2019) :

Kota Kinabalu – The Tip of Borneo – Ranau (382 KM)

Pukul 08.00 am saya di jemput bro Husin KK LC dan sarapan pagi disebelah hotel kemudian kami lanjut jalan-jalan dan foto-foto di landmark Kota Kinabalu.

Setelah foto-foto kamipun ke bengkel untuk ganti oli dan service si Tiggy. Nampak bro Nobi sudah menunggu disana. Setelah itu bertiga kami melanjutkan perjalanan ke Kudat menuju rumah bro Zali untuk berhari raya. Setibanya di rumah bro Zali kami langsung menyantap makan siang yang sudah disiapkan oleh keluarga bro Zali dan tak lama kemudian turun hujan. Setelah makan siang kamipun berpisah, bro Nobi dan Husin kembali ke KK sedangkan saya dan bro Zali lanjut ke The Tip of Boneo di Simpang Mengayau. Dalam kondisi hujan kami tetap berangkat mengenakan mantel hujan. Tak berapa lama hujan pun reda saya membuka mantel hujan sementara bro Zali mengisi minyak. Kamipun lanjutkan perjalanan setelah sampai di The Tip of Borneo ada begitu banyak bikers nampak dari kejauhan. Kami menunggu sesaat dan akhirnya satu persatu bikers tersebut pulang dan kamipun masuk. Setelah melihat kedatangan kami merekapun segera bergeser untuk mempersilahkan kami megambil gambar. Sayapun segera menaikkan motor saya dan bro Zali yang foto. Kesempatan pula bagi saya untuk merekam video sampai turun kebawah di batas laut lepas ujung Borneo klik disini

Bersama bro Zali kami melanjutkan perjalanan sampai Marakparak dan sayapun lanjut solo ride menuju Ranau. Malam hari saya sampai di Ranau dan langsung ke petrol station untuk isi full tank minyak. Sayapun melanjutkan perjalanan dan tak lama kemudian bertemu dengan bikers RBC. Sayapun dijamu makan malam dan setelah itu bersama bro Chris saya dibawa ke rumahnya untuk stay semalam. Keluarga bro Chris sangat ramah.

Day 12 ( Senin, 10 Juni 2019) : Ranau – Telupid – Tawau (441 KM)

Pukul. 07.00 am sayapun sudah siap untuk riding. Rumah keluarga bro Chris sangat sepi. Semalam sebelumnya sudah disampaikan kalo pagi-pagi bro Chris akan keluar lebih awal karena ada banyak wisatawan yang akan ikut paragliding. Bro Chris pemandu paraglider Terima kasih bro Chris atas tumpangannya.

Sayapun meninggalkan kediaman bro Chris dan berangkat menuju Kundansang untuk menikmati perjalanan menuju Gunung Kinabalu yang sejuk dan berkabut sepanjang jalan. Setelah itu kembali lagi ke Ranau dan menuju Bank CIMB Niaga untuk mencek kartu ATM yang bermasalah. Bank di Ranau buka pk. 09.15 am. Sayapun menunggu dan tak lama muncul bro Edmon bersama istrinya sist Helen dan menemani saya ke Customer Service Bank. Heran juga di Brunei tidak bermasalah kok di sini bermasalah ya. Setelah itu kami

lanjut sarapan pagi dekat bank dan sekitar pk.10.00 am sayapun siap-siap melanjutkan solo ride ke Tawau. Terima kasih bro Edmond dan sist Helen, terima kasih bikers RBC

Kembali Figa solo ride sampai Lahad Datu dan istirahat makan siang, isi minyak dan mencari bengkel untuk ganti oli. Setibanya di bengkel turun hujan dan ternyata pemilik bengkel orang Makassar, Sulawesi. Dia melihat plat motor saya dan bertanya dan kami lanjut ngobrol-ngobrol. Awalnya hanya untuk ganti oli akhirnya mekaniknya disuruh cek semua kondisi si Tiggy. Setelah selesai service si Tiggy hujanpun berhenti. Dan info by WA bro Yap dan bro Rasid sudah menunggu di Kunak. Sayapun pamit ke pemilik bengkel dan melanjutkan perjalanan ke Kunak. Setibanya di Kunak tidak nampak bro Yap dan bro Rasid ternyata saya sudah lewat dan mereka tidak melihat kalau saya sudah melintas. Sejenak saya berhenti sebentar untuk melihat hp tak lama muncul bro Yap dan bro Rasid. Bertiga kami menuju ke rumah bro Rasid yang open house hari raya. Kamipun makan malam bersama keluarga bro Rasid dan setelah itu bro Yap mengantar saya ke rumah sist Malinda. Sebelumnya by WA sist Malinda info agar saya stay di rumahnya selama di Tawau. Terima kasih sist Malinda dan bro H. Rosli atas tumpangannya.

Day 13 (Selasa, 11 Juni 2019) : Tawau, Sabah, Malaysia

Keesokan paginya bersama bikers Tawau kamipun sarapan di kedai dan mengobrol persiapan rencana perjalanan saya selanjutnya.

Atas arahan om Stephen Langitan agar saya mengikuti arahan dari bikers Tawau. Sebenarnya Figa berkeinginan masuk hutan perbatasan mengikuti rute om Stephen Langitan yang menantang. Namun oleh sist Malinda dan bikers Tawau dibuat Plan A dan Plan B. Plan A, saya bersama motor ke Kalabakan dan jika masih memungkinkan menempuh jalur masuk hutan perbatasan, atau Plan B saya ikut jalur resmi by ferry ke Nunukan dan motor diangkut mobil bro Din Abidin ke hutan dan setibanya saya di Nunukan lanjut ke Kanduangan terus masuk hutan ambil motor.

Untuk jalur rersmi saya harus ke Konsulat Republik Indonesia di Tawau untuk mendapatkan surat sokongan/referensi dan dibawa ke Kastam Diraja Malaysia kemudian CDP Carnet di stamp

Bersama bikers Tawau bro Yap, bro Rully Massiga, bro H. Rosli (suami sist Malinda), bro Din, Bro Zack, bro Wan Sapsai dan lain-lain menemani saya ke Konsulat Republik Indonesia (KRI) Tawau. Setelah menyerahkan dokumen yang diminta untuk pembuatan surat sokongan, pak Irwan staff KRI meminta nomor WA saya jika ada dokumen yang masih diperlukan atau surat sokongan tersebut sudah selesai saya segera dihubungi oleh beliau. Bersyukur sekali semua membantu dan berjalan lancar.

Sambil menunggu proses pembuatan surat sokongan dari KRI Tawau, saya bersama bro H. Rosli ke bengkel untuk ganti busi si Tiggy dan kemudian kami balik ke rumah. Dan benar saja tak lama kemudian pak Irwan KRI Tawau WA saya agar foto isi CDP Carnet.

Segera saya foto dan share. Tak berapa lama datang bro Zack menjemput dan kamipun jalan-jalan di kota Tawau.

Tak lama datang bro Wan Sapsai dan bertiga kami ke Kastam Diraja Malaysia untuk stamp CDP Carnet padahal surat sokongan belum ada di tangan. Sekitar 20 menit kami menunggu di Kastam karena info yang kami dapat yang akan tanda tangan tidak ada di tempat. Kamipun segera beranjak turun ke lantai-1 dan nanti balik lagi. Setelah di lantai-1 ketemu pegawai Kastam yang memberitahukan kalau kepala Kastam ada di ruangan. Kamipun naik lagi ke lantai-2 dan langsung masuk ke ruangan beliau.

Puji Tuhan ternyata bapak kepala kastam ada di ruangan dan tanpa banyak tanya dan meminta surat sokongan dari KRI Tawau, CDP Carnet langsung di stamp oleh beliau.

Kemudian saya menelpon pak Irwan KRI Tawau dan menanyakan apakah surat sokongan sudah selesai dan dia menyampaikan sekitar 15 menit lagi sudah bisa diambil. Saya bersama bro Zack dan bro Wan Sapsai ke KRI Tawau dan surat sokongan sudah selesai walaupun sebenarnya tidak dipergunakan lagi tapi tetap kami ambil kali aja suatu saat diperlukan.

Saya bersama bro Zack ke cafe makan siang walaupun sudah hampir sore dan bro Wan Sapsai balik ke rumah. Di cafe tersebut ketemu bikers Tawau dan tak lama kemudian muncul bro Din Abidin yang akan mengangkut si Tiggy di mobil double cabin untuk dibawa menuju Kalabakan masuk jalur hutan perbatasan. Jadi yang kami pakai Plan B, motor lewat hutan perbatasan Simanggaris dan saya jalur resmi dengan ferry ke Nunukan.

Day 14 (Rabu, 12 Juni 2019) :

Tawau – Nunukan – Sei Ular – Desa Kanduangan

Pukul 07.00 am saya terbangun dan sist Malinda sudah siap ke kantor. Saya segera mandi dan kemudian bersama bro H. Rosli dan bro Ente menyusul sist Malinda yang sudah menunggu di kedai kopi. Kamipun sarapan disana dan sist Malinda lanjut ke kantor.

Saya bersama bro H. Rosli dan bro Ente ke pelabuhan ferry untuk beli tiket tujuan Nunukan. Setibanya di pelabuhan tiket yang pukul 11.00 am sudah sold out terpaksa beli yang pk. 03.00 pm seharga RM 90. Karena masih panjang waktu kami pergi ke cinema nonton film X-Men dan setelah itu lanjut ke warung makan. Sehabis makan saya diantar ke pelabuhan ferry dan sekitar 1 jam kami menunggu dan sayapun siap menyebrang dengan ferry dari Tawau, Sabah, Malaysia menuju Nunukan, Kalimantan Utara, Indonesia.

Pukul 17.00 WITA saya tiba di Nunukan dan langsung ke Imigrasi untuk stamp passport dan bersama staff imigrasi saya ditemani ke Bea Cukai tidak jauh dari kantor imigrasi. Dan CDP Carnet di stamp tanpa tanda tangan petugas. Atas info petugas tanda tangan nanti di petugas Sempadan Simanggaris. Setelah itu saya lanjut ke Sungai Bolong dengan menggunakan angkutan umum seharga Rp. 10.000,- . Dan dilanjut dengan menggunakan speed boat ke Sei Ular. Harga normal menyebrang dengan speed boat Rp. 50.000,- dan karena waktu sudah hampir gelap dan penumpang cuma 3 orang jadi kami dikenakan Rp. 100.000,-/orang. Tiba di Sei Ular sudah malam dan saya lanjut menggunakan ojek ke rumah kak Ros, anak H. Pataruddin dan sangat di kenal oleh mayarakat setempat. Kondisi jalan ke Desa Kanduangan mulus hanya saja banyak tanjakan dan motor ojek kadang susah untuk mendaki sekali-sekali saya harus turun dari motor hahaha….tidak ada penerangan jalan karena belum masuk listrik dan sangat sepi. Warga menggunakan genset untuk penerangan dan hanya sampai pk. 23.00 WITA.

Sekitar jam 21.00 WITA tiba di rumah kak Ros dan saya langsung disuguhi makanan yang sudah disiapkan oleh kak Ros, makanan khas Makassar. Jadi kangen kuliner Makassar.

Setelah makan malam kami lanjut ke hutan untuk ambil motor, dimana bro Din sudah menunggu, Dengan mengenderai mobil double cabin yang disewa kami menuju hutan

melewati perkebunan sawit. Rencananya si Tiggy akan dinaikkan ke mobil kalau keluar dari hutan perbatasan.

Sesampainya di hutan saya bertemu bro Din dan kami foto-foto didalam hutan Perbatasan Indonesia – Malaysia. Senang banget jumpa si Tiggy lagi.

Karena penasaran riding dalam hutan, sayapun riding malam hari keluar dari hutan perbatasan melewati perkebunan sawit. Beruntung sekali cuaca cerah jadi jalanan tidak terlalu susah untuk dilalui seperti yang dialami om Stephen Langitan dengan rute yang sangat berat karena diguyur hujan jadi tanah liat. Berkendara ditengah hutan riskan juga karena ada banyak persimpangan dijumpai. Bagi yang tidak pernah masuk pasti akan tersesat. Saya sampai dua kali berhenti dipersimpangan karena ragu harus ke kiri atau ke

kanan. Tapi lampu weser mobil yang berada dibelakang saya memberi tanda berbelok kemana jika saya berhenti di persimpangan. Dan kamipun tiba di rumah kak Ros dan saya segera mandi karena tidak lama lagi genset akan dimatikan.

Day 15 (Kamis, 13 Juni 2019) :

Desa Kanduangan – Sebuku – Malinau – Tanjung Selor (399 KM)

Pk. 06.00 WITA saya bangun dan segera mandi dan sarapan yang sudah disiapkan kak Ros, kemudian diantar kak Ros menemui bapak yang akan tanda tangan CDP Carnet. Kami balik lagi ke rumah untuk berkemas dan sayapun berpamitan untuk melanjutkan solo ride ke Tanjung Selor. Sebelum meninggalkan kediaman kak Ros kami foto bersama di depan rumah.

Rute dari Sebuku ke Malinau kondisi jalan masih dalam perbaikan, berlubang dan banyak tanjakan. Setibanya di Malinau saya beristirahat untuk makan siang sekaligus ke bank untuk mencek semua kartu ATM saya yang bermasalah di Malaysia. Puji Tuhan syukur kepada Allah, kartu ATM berfungsi normal kembali dan sayapun segera menarik tunai.

Perjalanan solo ride kembali menuju Tanjung Selor. Sore hari tiba di Tanjung Selor dan dengan kecepatan rendah saya cari hotel dan rumah makan. Sepanjang jalan poros saya tengok kiri dan kanan, akhirnya ada rumah makan Ayam Geprek dan sayapun mampir untuk makan. Ternyata ownernya suami – istri biker Honda Scoopy Tanjung Selor.

Sayapun bertanya mencari informasi ke Pulau Derawan. Setelah lama ngobrol akhirnya saya pamit dan makanan saya free. Terima kasih bro dan sist. Sayapun lanjut mencari hotel ditemani bro Illa member Honda Scoopy Tanjung Selor. Setelah mendapatkan hotel bro illa balik kanan dan sayapun beristirahat.

Day 16 (Jumat, 14 Juni 2019) :

Tanjung Selor – Tanjung Batu (180 KM)

Pukul 08.00 WITA saya dijemput bro Illa dan diajak sarapan pagi bubur ayam khas kota Tanjung Selor. Setelah sarapan kami ke bengkel Honda Astra untuk service komplit si Tiggy. Mekaniknya member Honda Scoopy juga. Sebelum berangkat saya foto-foto dulu di kota Tanjung Selor yang merupakan ibukota Kalimantan Utara.

Saya dilepas bro Illa dijalan poros dan kembali Figa solo ride menuju Tanjung Batu. Saya tidak masuk Berau terlebih dahulu karena planning hari ini mau bersantai-santai di Pulau Derawan yang merupakan salah satu destinasi wisata yang terkenal dan sudah lama saya berkeinginan mengunjungi tempat ini dan akhirnya kesampaian woohoo…

Setibanya di Tanjung Batu saya titip si Tiggy di dermaga dengan biaya Rp. 15.000,-/malam dan bersama 2 penumpang lainnya kami naik speed boat menyebrang ke pulau Derawan. Tarif normal menyebrang ke Pulau Derawan Rp. 50.000,-/orang, hanya karena sudah tidak ada lagi penumpang dan sudah sore maka kami dikenakan tariff Rp. 100.000,-/orang. Kedua penumpang tersebut ternyata anak Makassar yang seorang sudah lama tinggal di Berau, bro Agung namanya dan yang satu sepupunya bro Suandi yang datang berlibur.

Setibanya di Pulau Derawan kami share biaya sewa cottage seharga Rp. 300.000,-. Kalau Homestay mulai dari harga Rp. 100.000,- sampai Rp. 200.000,- Kami memilih cottage karena viewnya langsung menghadap pantai. Segera kami letakkan barang bawaan dan berjalan kaki keliling Pulau Derawan dan atas arahan bro Agung karena sudah sering kesini kami foto- foto di beberapa spot yang bagus.

Setelah sesi foto-foto saya mengajak bro Agung dan Suandi cari cafe untuk ngopi dan menikmati pisang goreng panas…. hmmmm nikmat sekali.

Menjelang malam kami mandi dan lanjut makan malam di warung makan lesehan. Ada banyak warung makan dan cafe tersedia jadi tidak perlu khawatir kelaparan. Setelah itu kami jalan-jalan dan duduk santai di anjungan dan tak lama muncul kawan bro Agung dan kamipun ngobrol menikmati malam di pulau Derawan ditemani bir kaleng yang kami beli disebelah warung makan tadi. Kayaknya BBQ di sini boleh juga… pasti asyik. Setelah menikmati sekaleng bir sayapun pamit duluan balik ke cottage untuk istirahat.

Day 17 (Sabtu, 15 Juni 2019) :

Pulau Derawan Tanjung Batu – Tanjung Redeb Berau (130 KM)

Pukul 08.00 WITA saya bangun dan siap-siap untuk tour 4 pulau (Maratua Paradise Resort, Khe Dieng, Kakaban Resort Island, Sanggalaki) dari pagi sampai sore. Untuk sewa 1 speed boat kapasitas 7 orang, Rp. 1.500.000,- included coffee break, lunch, foto dibawah laut, drone video, alat snorkeling dan vest. Karena bro Agung dan Suandi tidak ikut jadi hanya saya sendiri dikenakan tariff Rp. 500.000,- dengan fasilitas yang sama dan gabung dengan pengunjung lainnya. Kami jadi satu team dengan dipandu oleh bro Andhik dan bro Sandi sebagai tour leader. Kamipun berkenalan dan menjadi seperti satu keluarga

1, Maratua Paradise Resort

Pulau pertama yang kami kunjungi dan viewnya sangat indah (recommended). Lebih privasi dibanding dengan Pulau Derawan yang ramai dengan pengunjung. Disini kami menikmati coffee break dan pastinya foto-foto

2.  Khe Dieng

View lumayan bagus, hanya mampir sebentar untuk foto dan drone video klik disini

3.  Kakaban Island

Sensasi berenang dengan ubur-ubur (Jellyfish) yang tidak menyegat. Ada ubur-ubur yang sebening kaca kalau diangkat ke permukaan tidak nampak. Ada yang coklat muda, kenyal seperti jellyfish klik disini Setelah puas berenang dengan ubur-ubur kami istirahat makan siang yang sudah disediakan.

4.  Sangalaki Island

Berenang dengan penyu dan ikan pari seperti di Pulau Derawan dan ada juga penangkaran tukik (Hatchcling). Setelah dari sini speed boat bergeser ke palung dan dari atas speed boat kami lompat satu persatu untuk berenang dan menyaksikan palung yang gelap dibawah laut dan indahnya terumbu karang.

Tak terasa sudah menjelang sore dan kamipun siap-siap kembali ke Pulau Derawan. Saat akan kembali tiba-tiba turun hujan. Setibanya di Pulau Derawan sudah sore sayapun segera mandi dan berkemas. Sebelum naik speed boat yang sudah menunggu, sayapun berpamitan dengan teman-teman baru dan naik speed boat ke dermaga mengambil si Tiggy yang saya titip semalam dan lanjut solo ride dari Tanjung Batu ke Tanjung Redeb dan Berau.

Sebelum melanjutkan riding saya membaca WA dari bro Jeff BOB Berau yang menunggu di Tanjung Redeb. Dari kemarin saudara-saudara BOB sudah menunggu dan siap menjemput namun karena beach calling, maafkan Figa yang sudah membuat kalian menunggu.

Di Tanjung Redeb sudah menunggu bro Jeff dan bro-bro BOB Berau dan saya langsung diantar ke sekre BOB dan si Tiggy langsung diservice ganti bushing dan kencangkan rantai

serta baut-baut seperti pada mau copot semua hahaha... Kebetulan sekre BOB merangkap bengkel dan membernya juga yang jadi mekanik

Sayapun disuguhi makan malam dan tak lama kemudian datang saudara MTC Makassar bro Yernol dan Anjas yang kebetulan bekerja di Berau. Kamipun ngobrol santai dan selanjutnya diantar untuk reservasi hotel. Lelah sangat rasanya hari ini seharian habis berenang dan ditambah lagi riding. Sayapun ingin cepat beristirahat dan saudara-saudara BOB dan MTC pamit pulang

Day 18 (Minggu, 16 Juni 2019) : Berau – Bengalon -Sangatta (368 KM)

Pk, 06.00 WITA saya dijemput bro Jeff BOB dan kami sama-sama ke gereja untuk mengikuti ibadah Minggu pagi. Setelah ibadah kami foto-foto di kota Berau dan balik ke hotel untuk sarapan pagi dan sayapun berkemas untuk check out. Bro Jeff beserta saudara BOB melepas saya sampai Armed Berau dan sayapun melanjutkan solo ride menuju Sangatta, Kalimantan Timur

Dalam perjalanan dari Bengalon menuju Sangatta saya berjumpa Bekantan sebangsa kera dijalan. Sayapun berhenti tetapi motor dalam keadaan engine on. Sayapun mengambl foto namun kurang puas karena terlalu jauh jaraknya. Sayapun zoom camera hp namun nampak si Bekantan berbalik dan menunjukkan gerakan akan mendekat. Segera hp masuk kantung jaket dan segera saya kaburrrr….

Tinggal beberapa kilometer lagi memasuki Sangatta, tiba-tiba hujan deras dan sayapun menepi untuk berteduh bersama pengguna jalan lainnya. Kamipun ngobrol sebentar dan mereka bertanya dengan pertanyaan yang sama seperti sebelum-sebelumnya ketika orang berjumpa dengan saya. Tak lama hujanpun reda sayapun pamit dan melanjutkan perjalanan. Sekitar 2 Km dari tempat saya berteduh sudah menanti bro Mas Tik BIGGER Bontang dan bro Adit SATIC. Sayapun diantar ke sekre SATIC Sangatta dan tak lama berdatangan saudara- saudara dari SATIC dan bro Kopeng TIC Ngawi yang bekerja di Sangatta. Cukup lama mengobrol sambil nonton MotoGp. Sayapun titip pakaian untuk di laundry express kemudian diantar ke hotel yang sudah direservasi bro Afif SATIC

Day 19 (Senin, 17 Juni 2019) :

Sangatta – Bontang – Samarinda (187 KM)

Pukul. 08.00 WITA setelah sarapan saya dijemput bro Mas Tik BIGGER, SATIC, bro Kopeng TIC Ngawi. Ramai-ramai kami menuju Bontang tapi sebelumnya mampir di Sangkima Jungle Park, Kutai Timur untuk melihat pohon Ulin Raksasa. Lumayan jauh juga masuk kedalam hutan. Tadi pagi saya sudah mandi dan keluar hutan Sangkima saya mandi keringat. Karena lelah dan kehausan kami menikmati kelapa muda yang dijual diluar hutan. Segarrr…

Kamipun melanjutkan perjalanan menuju Bontang dan dua kali melewati air selutut setelah dilanda banjir. KalTim diguyur hujan beberapa hari sehingga mengalami musibah banjir. Bersyukur sekali hari ini kami diberikan cuaca yang cerah dan air sudah surut sehingga kami dapat melanjutkan perjalanan

Setibanya di Bontang kami mampir di rumah Kapengda HTCI Pengda Kaltimara, bro Hamka BIGGER. Kamipun bersitirahat sejenak menikmati kue lebaran dan lanjut makan siang di Rumah Makan Anjungan. Tempatnya cozy dengan view sungai.

Perjalanan selanjutnya saya ditemani bro Mas Tik BIGGER dan bro Adit SATIC. Kondisi jalan masih banyak yang rusak. Kami mampir di Muara Badak soan ke cafe sekaligus rumah om Tungky RHITEC sambil menikmati kopi buatan Barista terkenal KalTim dan menunggu bro Rizky UNTICS yang akan escort saya ke Samarinda.

Mas Tik dan bro Adit balik kanan, saya bersama bro Rizky UNTICS menuju Samarinda. Tiba di Samarinda sudah malam dan saya langsung minta di antar ke rumah om Dado UNTICS yang sedang sakit. Senang sekali bisa berjumpa om Dado. Beliau dulu yang pantau perjalanan saya sewaktu solo ride Borneo tahun 2014. Tak lama berdatangan saudara bikers UNTICS dan bro Imam Thunder Samarinda.

Bersama saudara bikers UNTICS dan bro Imam saya ditemani reservasi hotel dan segera mandi kemudian kami lanjut lagi keluar makan malam dan jalan-jalan

Day 20 (Selasa, 18 Juni 2019) :

Samarinda - Balikpapan – Penajam – Tanah Grogot (280 KM)

Pukul 08.00 saya dijemput bikers UNTICS dan bro Imam ke kedai kopi untuk sarapan dan dilepas oleh mereka. Kembali Figa solo ride menuju Balikpapan. Dalam perjalanan ketemu biker IMTB Balikpapan dan kemudian ketum IMTB bro Chaip.

Sayapun diajak makan siang dan lanjut ke pelabuhan kapal klotok untuk menyeberang ke Penajam. Kalau naik ferry lebih lama tiba karena ambil rute jauh. Sedangkan dengan kapal klotok hanya 15 menit sampai. Ngeri juga waktu si Tiggy mau di muat di kapal klotok. Air lagi surut sehingga posisi si Tiggy tegak lurus saat diturunkan. Ada 5 orang yang turunkan si Tiggy. Saya tidak tega mau lihat hanya bisa berdoa dalam hati.

Akhirnya kami sampai juga di Penajam dan di jemput sekretaris PINTER dan langsung dibawa ke cafe dimana sudah menunggu ketum dan bikers PINTER. Kamipun ngobrol dan ngopi. Tak terasa sudah pk. 17.00 WITA. Akhrnya Ketum dan sekretaris PINTER menemani saya sampai ke Tanah Grogot.

Dalam perjalanan hujan deras dan kamipun menepi dan mengenakan mantel hujan. Setelah itu kami lanjut riding. Tiba di Tanah Grogot sudah malam dan kami dijemput om Robby POWER. Kamipun langsung dibawa makan seafood dan langsung ke rumah om Robby dan stay semalam.

Day 21 (Rabu, 19 Juni 2019) : Tanah Grogot – Batulicin (285 KM)

Pukul 06.00 WITA pagi Ketum dan Sekretaris PINTER sudah kembali ke Penajam disaat saya masih tertidur lelap. Pukul 08.00 WITA saya siap-siap untuk solo ride. Saya dilepas om Robby dan istrinya dijalan poros.

Kembali Figa solo ride menuju Batulicin Kalimantan Selatan yang sepi, melewati hutan dan gunung kapur.

Pukul 12.00 WITA tiba di Batulicin dan saya rest di Indomaret kemudian datang bro Yan ketum TOB dan biker TOB Batulicin. Sayapun minta diantar ke kantor PT. Dharma Lautan Utama untuk beli tiket pengiriman si Tiggy ke Makassar. Setelah saya search, kalau ada jadwal kapal pada Sabtu, 24 Juni 2019. Setelah itu kami reservasi hotel dan sayapun beristirahat

Malam harinya saya dijemput bikers TOB dan kami makan malam lesehan dan setelah itu lanjut jalan-jalan di kota Batulicin

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat dan saya diantar kembali ke hotel dan si Tiggy dibawa oleh member TOB yang kebetulan mekanik untuk di service di rumahnya

Day 22 (Kamis, 20 Juni 2019) :

Batulicin – Pelaihari – Mercu Suar Batakan – Banjarbaru (378 KM)

Pukul 08.00 WITA bikers TOB ke hotel dan si Tiggy sudah diservice dan siap riding lagi. Sayapun dilepas oleh bikers TOB dan kembali solo ride. Kalau kemarin saya berada di The Northern Most Tip of Borneo Island, Simpang Mengayau, Sabah Malaysia, maka untuk melengkapi touring saya Ride Tip to Tip, sayapun menuju The Southern Most Tip of Borneo Island di Batakan, Kalimantan Selatan. Sehingga komplit sudah Ride Tip to Tip.

Sayapun janjian dengan bro Pandu dan bro Roy BTRC yang nanti akan menemani saya menuju Batakan. Kamipun bertemu di Plaihari dan lanjut ke Batakan. Bro Pandu dan bro Roy sendiri belum pernah ke tempat tersebut.

Beruntung sekali kami bertemu dengan bapak tentara dan seorang penduduk yang tahu arah menujuThe Southern Most Tip of Borneo, Batakan. Kalau mereka tidak ada pasti kami tersesat. Rute yang kami lewati seperti arena motor cross, rawa, berlumpur dan jembatan kayu yang sudah lapuk dan bolong sana sini. Sayapun terjatuh dari motor tapi tidak membuat saya patah semangat. Kembali saya bangkit dan lanjut riding. Tank bag diambil bro pandu dan diletakkan dimotonya. Ketika akan melintasi jembatan saya tidak berani. Si Tiggy diseberangkan oleh bro Roy BTRC. Saya membuat video saat si Tiggy diseberangkan. Ngeriii…. klik disini

Akhirnya kamipun sampai ditujuan dengan mandi keringat karena cuaca panas dan sangat melelahkan. Kamipun foto-foto dan membuat video singkat klik disini

Disitu ada 4 Kepala Keluarga dari Dinas Perhubungan dan mereka setiap 6 bulan shift tugas. Makanan setiap 3 atau 6 bulan di drop dengan menggunakan kapal. Karena ini sudah ujung dari Kalimantan Selatan jadi laut lepas

Tak terasa sudah menjelang sore dan kamipun pamit dan kembali rock and roll. Dan untuk yang kedua kalinya sayapun terjatuh lagi dari motor dan kali ini saya sampai berteriak dengan sangat kencang karena tertimpa motor dan barang. Posisi jatuh menyamping sehingga tulang telapak kaki kiri kena besi braket dan betis kanan kena benturan. Bro Pandu sudah di depan jadi dibelakang saya ada bro Roy berboncengan dan pak tentara yang langsung dengan sigap lompat dari motor dan dengan susah payah segera mengangkat motor yang meninmpa saya. Akhirnya si Tiggy dikendarai bapak tentara (maaf lupa tanya namanya) dan saya dibonceng bro Roy BTRC. Kamipun mampir di warung kopi istirahat sebentar sekalian bersih-bersih dari lumpur. Setelah itu kami bertiga pamit dan kembali melanjutkan perjalanan menuju Banjarbaru sebagai akhir perjalanan saya.

Setibanya di Banjarbaru, saya reservasi hotel dan segera bersih-bersih. Tak lama dijemput bro Akhya BTRC untuk makan malam dan kamipun lanjut ke rumahnya ngobrol santai sambil bakar jagung bersama keluarganya dan saudara bikers BTRC. Tak berapa lama sayapun pamit balik ke hotel untuk istirahat. Besok saya balik Makassar dengan Lion Air malam hari, jadi saya berpesan jangan saya diganggu ya pagi-pagi karena saya mau tidur sampai siang hahaha…… dan dihari yang sama si Tiggy dibawa kembali ke Batulicin untuk dikirim ke Makassar oleh bro Agam TOB.

Dan selesai sudah touring saya dengan dua record : Lady Biker Pertama asal Indonesia Solo Ride Lintas Borneo 360ᵒ Degree/Derajat dan Ride Tip to Tip (The Northern and Southern Most Tip of Borneo Island)

Terima kasih buat om Stephen Langitan, saudara-saudaraku dibawah naungan Honda Tiger Club Indonesia, khususnya HTCI Pengda Kalselteng, HTCI Pengda Kalbar, HTCI Pengda Kaltimara, all bikers Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam, Ikatan Motor Indonesia atas support, doa dan pengkondisiannya. Tetap menjaga dan menjalin tali silaturahmi. God bless you all.

My lovely club, Makassar Tiger Club thanks a lot, love you always and forever BIG THANKS to Jesus Christ The Lord God Almighty

Sumber : Tulisan dan Dokumentasi Perjalanan Bertema "THE REAL CONQUEROR RIDE TO 3 NATIONS (INDONESIA - MALAYSIA – BRUNEI DARUSSALAM) SOLO RIDE LINTAS BORNEO 360° DEGREE/DERAJAT" Oleh Sis Viga Makassar Tiger Club

Terimakasih telah berbagi pengalaman dalam Solo Touring lintas Negara, semoga sukses di setiap misi touringnya dan semoga dokumentasi ini dapat menginspirasi brothers HTCI untuk dapat terus mengibarkan bendera Club dan HTCI Tercinta...

Salam hangat,
Nano.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

× Whatsapp?
%d bloggers like this: